Friday, October 01, 2010

VGA dan Chipset Travelmate 2420 Windows 7

Bagi anda pengguna laptop Acer TravelMate 2420, dan ingin upgrade OS ke Windows 7, khusus untuk driver VGA dan Chipset tidak tersedia dalam diver pack CD bawa'an. Silahkan download melalui link dibawah ini :
Chipset
VGA
Silahkan bagikan kesulitan anda kalau ada masalah yang lain.

Wednesday, September 16, 2009

Umat Katolik Papua Terima Amanat Idul Fitri Vatikan

Umat Katolik di Papua-wilayah paling timur dari Republik Indonesia menerima amanat Idul Fitri yang dikeluarkan Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antar-Umat Beragama bertemakan "Umat Kristiani dan Umat Islam Bersama Mengentaskan Kemiskinan".

Dari Jayapura, Rabu, ANTARA melaporkan, amanat Takhta Suci Vatikan untuk akhir bulan suci Ramadhan - Hari Raya Idul Fitri 1430 H/2009 AD itu mulai dibaca dan didiskusikan serta didalami banyak warga Gereja Katolik di wilayah ini.

Amanat Vatikan ini pun mendapat perhatian serius dari para mahasiswa Katolik yang sedang belajar di berbagai Perguruan Tinggi di tanah Papua khususnya para mahasiswa yang sedang menekuni ilmu-ilmu agama di lembaga pendidikan para calon pastor, biarawan-biarawati dan calon guru agama Katolik.

Di dalam perkumpulan-perkumpulan keluarga-keluarga Katolik, amanat Vatikan ini dibahas para anggota keluarga dan diperdalam isi amanat itu untuk dilaksanakan dalam kehidupan setiap hari di tengah kemajemukan umat beragama di tanah Papua.

Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama yang diketuai Jean-Louis Cardinal Tauran dan Sekretaris, Uskup Agung Pier Luigi Celata itu mengawali pesan Idul Fitri 1430 H dengan menyapa umat Islam sebagai Saudara yang terkasih.

"Saudara Umat Islam yang terkasih, pada Hari Raya, ketika Anda sekalian meng akhiri bulan suci Ramadhan ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda sekalian Ucapan Selamat kami, disertai dengan harapan akan kedamaian dan kebahagiaan bagi Anda sekalian. Melalui Ucapan Selamat ini pula kami ingin menyampaikan tema yang kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita bersama: Umat Kristiani dan Umat Islam: Bersama Mengentaskan Kemiskinan," kata Jean-Louis Cardinal Tauran

Berkaitan dengan tema pesan Idul Fitri tahun ini, masalah manusia yang berada dalam situasi kemiskinan adalah sebuah topik yang, dalam pelbagai iman kepercayaan, justru berada di jantung perintah-perintah agama yang kita junjung tinggi.

Perhatian, belarasa dan bantuan yang kita semua, sebagai sesama saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dapat memberikan kepada mereka yang miskin untuk membantu mereka mendapatkan tempat mereka yang sebenarnya di dalam tatanan masyar ak at yang ada, adalah sebuah bukti yang hidup dari Cinta kasih Allah yang Mahatinggi, sebab justru itulah yang menjadi kehendak -Nya, bahwa kita dipanggil-Nya untuk mengasihi dan membantu mereka sebagai sesama manusia tanpa pembedaan yang mengkotak-kotakkan.

Kita semua mengetahui, bahwa kemiskinan memiliki kekuatan untuk merendahkan martabat manusia dan menyebabkan penderitaan yang t ak -tertanggungkan. Tidak jarang hal itu menjadi penyebab keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam.

Hal itu dapat memancing tind ak an-tind ak an permusuhan dengan mempergun ak an segala macam cara yang mungkin, bahkan tidak tanggung-tanggung memberinya pembenaran diri melalui landasan-landasan keagamaan, atau dengan merampas kekayaan seseorang bersama dengan kedamaian dan rasa amannya, atas nama apa yang dianggapnya sebagai ?keadilan ilahi?.

Itulah sebabnya, mengapa apabila kita memperhadapkan gejala-gejala ekstremisme dan kekerasan, tidak boleh tidak, kita harus mengikutsertakan juga perihal penanganan kemiskinan dengan memajukan pengembangan manusia seutuhnya.

Dalam pidatonya pada kesempatan Hari Perdamaian Sedunia, pada 1 Januari 2009, Paus Benediktus XVI membedakan dua macam kemiskinan yakni kemiskinan yang harus diperangi dan kemiskinan yang harus dirangkul.

Kemiskinan yang harus diperangi ini diketahui oleh semua orang: misalnya kelaparan, tidak adanya air bersih, pelayanan kesehatan yang sangat terbatas, papan tempat tinggal yang kurang memadai, tatanan pend id ikan dan kebudayaan yang t ak memadai, tuna-aksara, belum lagi bentuk-bentuk baru kemiskinan "di dalam masyar ak at-masyar ak at yang kaya, di mana terdapat pula bukti-bukti masih adanya marginalisasi, seperti juga adanya kemiskinan afektif, moral dan spiritual?" (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 2009).

Adapun kemiskinan yang harus dirangkul adalah gaya h id up sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan menghormati lingkungan serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurangnya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku matiraga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita untuk melewati batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita.

Sebagai orang beriman, kerinduan untuk menjalin kerja-sama untuk mencari cara yang tepat dan dapat bertahan lama untuk memecahkan masalah pengentasan kemiskinan, tentu juga harus disertai dengan refleksi terhadap masalah-masalah berat jaman kita sekarang ini dan, apabila mungkin, juga dengan saling berbagi keprihatinan yang sama untuk mencabut sampai ke akar- akarnya permasalahan itu.

Dalam pandangan ini, pembahasan tentang segi-segi kemiskinan yang terkait dengan gejala globalisasi dalam masyar ak at-masyar ak at kita dewasa ini, memiliki pula damp ak spiritual dan moral, karena kita semua turut mengambil-bagian dalam panggilan yang sama untuk membangun satu keluarga umat manusia, di mana semuanya, baik pribadi-pribadi perseorangan, maupun suku dan bangsa, masing-masing bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan dan rasa tanggungjawabnya.

Dengan mempelajari secara seksama gejala-gejala kemiskinan tersebut, kita bukan saja ak an dibawa sampai kepada asal-usul permasalahannya, yakni kurangnya rasa hormat kepada martabat koderati manusia, tetapi juga seharusnya mengundang kita untuk membentuk suatu sol id aritas global, misalnya melalui penerapan suatu "kode etik bersama" yang norma-normanya bukan saja memiliki kar ak ter konvensional, tetapi yang t id ak boleh t id ak harus juga ber ak ar pada hukum alam yang telah disuratkan oleh Sang Khalik sendiri di dalam hati nurani setiap orang.

Rupanya, di pelbagai tempat di dunia ini, kita sudah melewati jenjang toleransi dan memasuki era pertemuan bersama, mulai dengan pengalaman-pengalam an h id up yang kita hayati bersama dan dengan berbagi keprihatinan nyata yang sama pula. Ini merup ak an sebuah langkah maju yang penting.

Dalam membagikan kepada setiap orang kekayaan hid up doa kita, puasa kita dan saling cintakasih kita satu sama lain, t id ak mungkinkah hal ini semua akan semakin menjadi daya dorong bagi dialog dari orang-orang yang justru sedang berada dalam ziarah menuju kepada Allah?

Kaum miskin bertanya kepada kita, menantang kita, tetapi di atas semuanya itu mereka mengundang kita untuk bekerja-sama untuk urusan masalah yang mulia ini, yakni mengentaskan kemiskinan.

"Ucapan Selamat Idul Fitri yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama seperti ini, telah menjadi tradisi yang kita pupuk bersama dan yang senantiasa menjadi kerinduan yang dinantikan setiap tahunnya. Dan ini sungguh-sungguh telah menjadi sumber kegembiraan kita bersama," tulis Dewan Kepausan itu.

Dari tahun ke tahun, di banyak negara, hal ini telah menjadi suatu kesempatan untuk perjumpaan dari hati ke hati antara bany ak Umat Kristiani dan Umat Islam. T id ak jarang pula perjumpaan itu menyapa suatu masalah yang menjadi keprihatinan bersama, dan dengan demikian membuka suatu jalan yang kondusif ke arah pergaulan yang ditandai oleh rasa saling percaya dan keterbukaan.

"Bukankah semua unsur ini secara langsung dapat dipahami sebagai tanda-tanda persaudaraan di antara kita, yang harus kita syukuri di hadapan Allah?" kata Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama itu. (*)

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/1253051892/umat-katolik-papua-terima-amanat-idul-fitri-vatikan

REVOLUSI NASIONAL ATAS PENEGAKAN HUKUM

BERKABUNG NASIONAL... !!!!

KORUPTOR BERJAYA ATAS PEMBELAAN APARAT KEPOLISIAN DENGAN MENGATASNAMAKAN PENEGAKAN HUKUM TERHADAP LEMBAGA ANTI KORUPSI.

INDONESIA BERDUKA... !!!

ANTEK-ANTEK KORUPTOR DI LEMBAGA PENEGAK HUKUM TELAH MELEGITIMASI KORUPSI DENGAN TAMENG PERUNDANG-UNDANGAN YANG ABSURB...!!!!

REVOLUSI NASIONAL ATAS PENEGAKAN HUKUM
INDONESIA ....!!!!

DUKUNG KPK ATAU JARAH KEMERDEKAAN BANGSA...!!!!!

Friday, July 31, 2009

Selayang duka, mengenang Kak Cay

Membaca tulisan ini yang aku temukan tanpa sengaja, rasanya bilur, kelu dan kesedihan kembali menekan relung hati. Tulisan yang sepertinya ditulis oleh sahabatku, Yulia.

Terlintas seorang sahabat, kakak, guru dan panutan yang buatku belum tergantikan sampai sekarang. Sosok sederhana, pandai, pantang menyerah masih sangat jelas dalam ingatanku. Titus Cahyadi Gardjito, kakak kelas di SMU dan Asrama Sedes Sapientiae Bedono angkatan 1995 yang biasa aku panggil “ kak Cay”, memang pribadi yang unik. Meski cenderung pendiam, tapi menyimpan segudang keistimewaan yang jarang dimiliki anak-anak SMU sebaya kami waktu itu. Matematika, fisika dan kimia adalah mata pelajaran yang paling dikuasainya. Sosok pantang menyerah ini memang tidak begitu menonjol dalam kegiatan sekolah maupun asrama, tetapi tidak sedikit prestasi akademik yang patut dibanggakan dari dirinya.

Sebagai sesama penghuni asrama, persahabatan kami bisa dibilang cukup dekat, bila dibandingkan dengan penghuni asrama lainnya. Meski aku dekat juga dengan beberapa kakak kelas yang lainnya, tapi ada sesuatu yang lain dari persahabatan kami. Motivasi dan dorongan yang dia berikan buatku bukan sekedar omong kosong belaka tanpa ada pembuktian nyata dari dirinya. Dukungan tidak hanya dia berikan lewat kata-kata, tetapi juga dalam wujud nyata dengan caranya sendiri meski kadang sulit aku pahami. Pelajaran matematika dan bahasa inggris yang menjadi “momok” menakutkan buatku, perlahan tapi pasti, dia menuntunku untuk membuang jauh justifikasi itu.

Kak Cay, sosok pendiam itu seakan berubah menjadi seorang guru yang bisa dengan sabar menuntun muridnya untuk memahami sesuatu yang sulit untuk dipahami sang murid.

Satu hal yang masih aku ingat sampai sekarang, yakni ketika dia sudah lulus dari SMU dan melanjutkan study di Universitas, tidak pernah lepas dia berbagi kabar dan tetap memberi motivasi meski keberadaannya nun jauh di Ibukota sana. Dan ketika dia berkunjung ke Asrama Sedes beberapa bulan kemudian, sosoknya masih belum berubah seperti yang aku kenal. Masih saja menanyakan bagaimana perkembangan studiku. Menanyakan bagaimana aku memupuk cita-citaku untuk menjadi seorang biarawan. Memotivasi dengan cara yang sama seperti ketika dia masih menjadi bagian dari keluarga Asrama Sedes.

Sungguh, kesan mendalam masih membekas dari setiap jeda kata yang dia sampaikan. Masih sama... masih penuh harapan... masih lekat dalam ingatan....

Semua sudah menjadi takdir sang Kuasa, dia harus lebih dahulu menghadap Yang Kuasa mendahului aku, Yulia, Edo, beberapa sahabat dekatnya dan semua orang yang dia cintai.... Semoga arwahmu tenang di sisi-Nya.... Selamat berbahagia sahabatku....

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Grocery Coupons